Flu Dan Batuk Pada Anak - FKDI Indonesia

Wednesday, August 14, 2019

Flu Dan Batuk Pada Anak


Pemateri : dr. Lia Shuban Asmuniati.
Edisi: 15 Agustus 2019
Bersin, pilek, dan hidung gatal atau buntu yang sering terjadi di pagi hari merupakan salah satu gejala rinitis (pilek) alergi. Rinitis alergi adalah salah satu penyakit alergi yang umumnya diderita pada usia anak sekolah dan dapat terus berlangsung sampai dewasa apabila tidak ditangani dengan baik. Angka kejadian rhinitis alergi di dunia bervariasi dan dapat mencapai 40% populasi pada anak, dan sekitar 10-30% dewasa.

Pada rinitis alergi terjadi reaksi alergi yang menyebabkan peradangan pada daerah hidung yang dapat menyebabkan keluarnya sekret/lendir (pilek), rasa gatal, bersin, dan hidung buntu. Keluhan ini dapat disertai juga dengan mata merah, gatal, dan berair. Keluhan lain yang dapat menyertai adalah mimisan, tidur mengorok, gangguan pada telinga, sakit kepala apabila terjadi komplikasi sinusitis.

Gejala-gejala ini bervariasi dari ringan-sedang sampai berat. Pada anak dengan gejala rhinitis alergi yang berat, maka kegiatan anak pada pagi hari dapat terganggu karena kualitas tidur malam yang tidak optimal akibat obstruksi/sumbatan pada hidung yang cukup berat. Konsentrasi anak di sekolah dapat terganggu karena anak merasa masih mengantuk, prestasi belajar dapat menurun.

Penyakit alergi lain seperti asma atau dermatitis atopik (eksim) dapat juga menyertai rhinitis alergi ini. Bagi penderita asma, apabila rhinitis alergi tidak ditangani dengan baik, maka serangan asma dapat sulit dikontrol dan juga sebaliknya.

Anak yang berisiko menderita rhinitis alergi adalah anak-anak dengan riwayat penyakit alergi pada keluarga. Perlu ditelusuri riwayat penyakit alergi seperti asma, rhinitis alergi, atau dermatitis atopik (eksim) pada orang tua dan saudara sekandung. Apabila ada orang tua atau saudara sekandung memiliki riwayat penyakit alergi, maka anak mempunyai risiko lebih tinggi menderita penyakit alergi termasuk rhinitis alergi.

Penyebab rhinitis alergi paling sering di Indonesia adalah alergen (zat pencetus alergi) inhalan yaitu alergen yang masuk ke dalam tubuh dengan cara dihirup/melalui saluran napas. Alergen yang paling sering ditemukan pada rhinitis alergi di Indonesia atau negara tropis pada umumnya adalah tungau debu rumah, bulu binatang, kecoa; jenis alergen ini berbeda dengan penyebab rhinitis alergi di negara 4 musim yaitu polen.

Alergen makanan sangat jarang menjadi pencetus rhinitis alergi. Untuk itu perlu dilakukan identifikasi pencetus rhinitis alergi pada anak agar dapat dilakukan penghindaran dengan tepat dan seoptimal mungkin.

Penentuan alergen penyebab rhinitis alergi dapat dilakukan melalui riwayat penyakit anak dan dapat didukung dengan tes alergi baik melalui darah atau pun tes kulit. Hal yang harus diperhatikan selain alergen adalah masalah polutan seperti asap rokok yang dapat merusak saluran napas. Polutan dapat memperberat penyakit alergi di saluran napas seperti asma dan rhinitis alergi.

Tata laksana rhinitis alergi yang komprehensif meliputi penghindaran alergen, obat-obatan untuk mengurangi gejala dan kekambuhan. Bagi anak yang alergi terhadap tungau debu rumah, hindari kontak dengan tungau debu rumah.

Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah dengan menghindari barang menumpuk di dalam kamar, hindari penggunaan karpet, kapuk, dan boneka bulu. Gantilah seprai, sarung bantal/guling, kelambu, gorden setiap 1 minggu sekali.

Jemur atau vaccum tempat tidur 1 minggu sekali. Bersihkan pendingin ruangan setiap minimal 2-3 bulan sekali. Konsentrasi tungau debu rumah akan tinggi di tempat manusia sering berada, karena makanan tungau debu rumah adalah serpihan kulit manusia. 

Oleh karena itu, jumlah tungau debu rumah paling banyak di kamar tidur. Untuk itu, sebaiknya anak tidak terlalu sering berada di kamar tidur, anjurkan anak lebih banyak bermain di luar kamar.

No comments:

Post a Comment