Dialog Tasawuf Guru dan Murid
Di bawah cahaya lampu minyak yang redup, seorang murid duduk dengan dada penuh sesak. Ia memecah hening.
Murid:
“Guru, rumah tanggaku terasa berat. Aku lelah bertahan. Kadang aku ingin pergi, agar luka ini berhenti.”
Sang guru menatapnya lama, lalu berkata pelan:
Guru:
“Anakku, tidak semua yang pergi adalah selamat, dan tidak semua yang bertahan adalah kalah.”
Murid mengangkat wajahnya.
Murid:
“Tapi Guru, aku sakit. Aku diuji dengan perasaan yang nyaris patah.”
Guru:
“Justru di situlah rahasianya.”
“Ketika kau tetap menjaga status dan posisimu, bukan karena takut manusia, tetapi karena takut kepada Allah—di situlah tasawuf dimulai.”
Murid terdiam. Nafasnya bergetar.
Murid:
“Apakah bertahan selalu lebih baik, Guru?”
Guru menggeleng pelan.
Guru:
“Tidak. Namun ketika kau mampu bertahan tanpa mendurhakai Allah, tanpa menzalimi diri, dan tanpa merusak amanah—maka bertahanmu sedang dicatat sebagai ibadah.”
Murid menunduk.
Guru (melanjutkan):
“Ada ujian yang jika kau lari darinya, ia akan mengejarmu.”
“Namun ada ujian yang jika kau hadapi dengan sabar, ia berubah menjadi tangga.”
Murid:
“Tangga menuju apa, Guru?”
Guru:
“Menuju kedekatan yang lebih jujur dengan Allah.”
Angin malam berdesir.
Murid:
“Aku merasa semakin sendiri, Guru.”
Guru:
“Itu pertanda baik, jika kesendirian itu membuatmu lebih sering menyebut nama-Nya.”
“Allah sering mengosongkan hatimu dari makhluk, agar kau tahu siapa yang sebenarnya menemani.”
Mata murid mulai basah.
Murid:
“Jika aku terus bertahan, apakah lukaku akan sembuh?”
Guru tersenyum teduh.
Guru:
“Luka tidak selalu disembuhkan dengan hilang.”
“Sebagian luka disembuhkan dengan makna.”
Murid:
“Lalu tentang jodoh syurga, Guru… apakah ia selalu pasangan yang sama?”
Guru menatapnya dalam-dalam.
Guru:
“Jodoh syurga bukan tentang siapa orangnya, tetapi siapa dirimu di hadapan Allah.”
“Jika dalam bertahanmu kau semakin jujur, sabar, dan tunduk—maka apa pun akhir kisahnya, kau sedang berjalan menuju jodoh syurgamu.”
Hening menyelimuti mereka.
Guru (menutup):
“Pertahankan amanahmu selama Allah masih kau jaga.”
“Sebab semakin kau bertahan dengan niat lurus, semakin jelas cahaya kedekatan itu.”
“Dan di titik itulah, dunia berhenti menjadi tujuan.”
Murid mengangguk perlahan.
Bukan karena semua luka hilang,
tetapi karena ia kini tahu
kepada siapa ia bersandar.
No comments:
Post a Comment