Pertanyaan:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Afwan, izin bertanya Ustadz/Ustazah. Semalam ada seorang tetangga saya yang memuji anak saya karena kagum, tetapi tidak menyertakan pujian kepada Allah. Saya sudah mengucapkan “Masya Allah, barakallahu fiikum”, tetapi hanya saya sendiri yang mendengarnya.
Tidak lama setelah itu, anak saya terjatuh dan batang hidungnya berdarah karena terkena dinding semen. Pertanyaan saya, apakah anak saya terjatuh itu karena ‘ain?
Dijawab oleh: Ustadz Nanang Wiwit Sinudarsono
Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Pertanyaan seperti ini sangat wajar muncul, terutama ketika sebuah kejadian terjadi tidak lama setelah seseorang memuji anak kita. Dalam Islam, kita memang tidak boleh mengingkari keberadaan ‘ain. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Al-‘ainu haqq.”
“’Ain itu benar.”
(HR. Muslim)
Namun, adanya ‘ain bukan berarti setiap musibah atau kecelakaan yang terjadi setelah seseorang memuji seseorang secara otomatis dapat disebut sebagai akibat ‘ain.
Dalam kasus tersebut, kita perlu membedakan antara keyakinan terhadap ‘ain dan menetapkan bahwa suatu kejadian pasti disebabkan oleh ‘ain.
Anak tersebut terjatuh dan hidungnya berdarah karena terbentur dinding semen. Secara sebab yang terlihat, ada peristiwa yang jelas: anak terjatuh dan mengalami benturan. Maka, kita tidak memiliki dasar yang cukup untuk mengatakan, “Anak ini pasti terkena ‘ain karena dipuji tetangganya.”
Sebab, ‘ain adalah perkara yang tidak terlihat dan tidak boleh ditetapkan hanya berdasarkan kebetulan urutan kejadian.
Bagaimana dengan pujian tanpa menyebut nama Allah?
Ketika kita melihat sesuatu yang membuat kita kagum—termasuk anak, kesehatan, kecantikan, kecerdasan, harta atau keberhasilan seseorang—hendaknya kita mengingat Allah dan mendoakan keberkahan.
Misalnya dengan mengucapkan:
“Masya Allah, tabarakallah. Allahumma barik.”
Artinya kurang lebih, “Apa yang Allah kehendaki. Mahasuci dan Mahaberkah Allah. Ya Allah, berikanlah keberkahan.”
Hal tersebut merupakan adab yang baik agar pujian tidak berubah menjadi sesuatu yang tidak baik.
Adapun ucapan ibu yang mengatakan “Masya Allah, barakallahu fiikum”, meskipun hanya dirinya sendiri yang mendengar, tetap merupakan ucapan yang baik. Namun, tentu lebih baik apabila orang yang memberikan pujian juga mendoakan keberkahan.
Apakah harus menyalahkan tetangga?
Tidak.
Justru kita perlu berhati-hati agar pembahasan tentang ‘ain tidak membuat kita berprasangka buruk kepada orang lain.
Bisa jadi tetangga tersebut benar-benar kagum kepada anak dan tidak memiliki niat buruk sedikit pun. Kita tidak boleh menuduh seseorang telah menyebabkan ‘ain hanya karena setelah pujian terjadi sebuah musibah.
Kalau setiap kejadian seperti itu langsung dianggap ‘ain, kita justru bisa terjebak dalam kekhawatiran dan prasangka yang tidak berdasar.
Lalu apa yang harus dilakukan orang tua?
Tidak perlu panik.
Sebagai seorang Muslim, kita dianjurkan untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah. Orang tua dapat membacakan doa-doa perlindungan kepada anak, seperti Al-Fatihah, Ayat Kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas, serta doa perlindungan yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Dan apabila anak mengalami luka secara fisik, tentu tetap lakukan penanganan sebagaimana mestinya. Tawakal kepada Allah tidak berarti meninggalkan ikhtiar.
Jadi, ‘ain memang benar adanya, tetapi dalam kasus anak yang terjatuh setelah dipuji tersebut kita tidak bisa memastikan bahwa jatuhnya anak disebabkan oleh ‘ain. Bisa jadi itu murni kecelakaan biasa karena anak terjatuh dan terbentur.
Kita beriman kepada perkara yang diajarkan agama, tetapi kita juga harus berhati-hati agar tidak menetapkan sesuatu yang gaib tanpa dasar.
Yang paling penting adalah tetap berhusnuzan kepada sesama, memperbanyak doa, menjaga adab ketika memuji, dan bertawakal kepada Allah.
Sebab pada akhirnya, tidak ada sesuatu pun yang dapat memberikan mudarat maupun manfaat kecuali atas izin Allah SWT.
Wallahu a'lam bish-shawab.
No comments:
Post a Comment