Oleh: Ust. Nanang Wiwit Sinudarsono
Dalam kehidupan, tidak semua orang akan memahami langkah yang kita pilih. Ada kalanya niat baik justru disalahpahami. Ada perjuangan yang dianggap pencitraan, kesabaran dianggap kelemahan, bahkan kebaikan pun tidak luput dari celaan dan penilaian orang lain.
Namun, Islam mengajarkan bahwa menghadapi semua itu tidak harus dengan kemarahan.
Allah SWT berfirman:
“Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik.”
(QS. Al-Muzzammil [73]: 10)
Ayat ini mengajarkan sebuah sikap yang tidak mudah dilakukan: sabar tanpa harus membalas, dan menjauh tanpa harus membenci.
Tidak Semua Celaan Harus Dijawab
Ada kalanya kita terlalu sibuk menjelaskan diri kepada orang lain. Setiap tuduhan ingin diluruskan, setiap komentar ingin dibalas, dan setiap perkataan yang menyakitkan ingin diberikan jawaban.
Padahal, tidak semua perkataan layak mendapatkan respons.
Terkadang, diam justru menjadi bentuk kedewasaan. Bukan karena kita tidak mampu menjawab, tetapi karena kita memilih untuk tidak memperpanjang sesuatu yang hanya akan menguras hati.
Sebab, semakin kita sibuk membuktikan diri kepada semua orang, semakin banyak energi yang kita habiskan untuk sesuatu yang sebenarnya tidak menentukan nilai diri kita di hadapan Allah.
Sabar Bukan Berarti Lemah
Kesabaran sering kali disalahartikan sebagai ketidakmampuan untuk melawan.
Padahal, sabar membutuhkan kekuatan.
Mampu membalas tetapi memilih menahan diri.
Mampu membalas celaan tetapi memilih menjaga lisan.
Mampu membuka aib orang lain tetapi memilih menutupinya.
Mampu memperpanjang pertengkaran tetapi memilih meninggalkannya dengan cara yang baik.
Itulah kekuatan hati.
Kita tidak harus memenangkan setiap perdebatan. Tidak harus membuat semua orang mengerti. Tidak harus memaksa semua orang menerima versi kebenaran yang kita yakini.
Ada saatnya kita cukup berkata dalam hati:
“Allah tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Tinggalkan dengan Cara yang Baik
Menjauh dari seseorang bukan selalu berarti membenci.
Ada kalanya menjauh adalah cara untuk menjaga hati, menjaga lisan, dan menjaga ketenangan.
Islam tidak mengajarkan kita untuk membalas keburukan dengan keburukan. Bahkan ketika harus meninggalkan sebuah hubungan, perselisihan, atau lingkungan yang tidak lagi sehat, kita tetap diperintahkan untuk melakukannya dengan cara yang baik.
Tidak perlu menghina.
Tidak perlu menyebarkan aib.
Tidak perlu membalas dengan fitnah.
Tidak perlu membuat orang lain jatuh hanya karena kita pernah disakiti.
Pergilah dengan tenang. Biarkan waktu dan Allah yang menunjukkan kebenaran.
Fokus pada Jalan yang Allah Ridai
Hidup terlalu singkat jika seluruhnya digunakan untuk memikirkan apa yang dikatakan orang lain.
Jika langkah kita benar, teruslah berjalan.
Jika ada kekurangan, perbaiki.
Jika ada kesalahan, akui dan bertobat.
Jika ada celaan yang tidak berdasar, bersabarlah.
Sebab ukuran keberhasilan seorang manusia bukanlah seberapa banyak orang yang memujinya, melainkan bagaimana ia mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Allah SWT.
Kesabaran bukan berarti kita kalah. Kesabaran adalah pilihan untuk tetap teguh ketika hati punya alasan untuk membalas.
Dan terkadang, bentuk kemenangan yang paling indah adalah ketika kita mampu meninggalkan sebuah persoalan tanpa kehilangan akhlak.
Bersabarlah dari celaan orang lain. Tidak semua suara harus kita jawab. Ada suara yang cukup kita serahkan kepada Allah.
No comments:
Post a Comment